Aku cerita jelek-jeleknya dia ke temen, tapi kan emang bener kejadiannya, ini ghibah nggak ya?" Pertanyaan seperti ini sering muncul di dalam pikiran kita. Banyak yang berpikir kalau yang diceritakan itu fakta, berarti bukan ghibah. Benarkah begitu?

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.
Aku cerita jelek-jeleknya dia ke temen, tapi kan emang bener kejadiannya, ini ghibah nggak ya?" Pertanyaan seperti ini sering muncul di dalam pikiran kita. Banyak yang berpikir kalau yang diceritakan itu fakta, berarti bukan ghibah. Benarkah begitu?
Ghibah Menurut RasulullahDari Abu Hurairah: Bahwasanya Rasulullah (ﷺ) bersabda: Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab: Allah SWT dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Rasulullah (ﷺ) berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi SAW ditanya: Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya? Rasulullah (ﷺ) menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya.”
Ini yang paling sering dipake sebagai pembenaran → "Tapi kan emang beneran dia kayak gitu kok!"Hadits di atas dengan jelas bilang, kalau yang kamu omongin itu beneran ada pada orang itu, ya itu ghibah. Kalau nggak beneran, itu fitnah (lebih parah lagi).
“Ah, dia juga tau kok kalau dia emang kayak gitu, jadi nggak papa lah."Meski orang itu sadar sama kekurangannya, bukan berarti kita boleh omongin ke orang lain. Semua orang punya kekurangan, tapi nggak semua orang mau kekurangannya dibicarakan secara terbuka. Ini soal menghormati dan menjaga privasi orang.
Menodai Kehormatan Muslim adalah Dosa Besar Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Bentuk riba yang paling berat dan paling melanggar hukum adalah merendahkan, menodai kehormatan, dan mempermalukan seorang Muslim tanpa alasan yang dapat dibenarkan.”
Dalam QS. Al-Hujurat: 11, Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim."
Terus baiknya bagaimana? Kalau kita benar-benar peduli sama seseorang yang salah atau punya masalah, dekati langsung dengan cara yang lembut dan private. Bukan sebarkan aibnya ke orang lain. "Aku ngerasa kamu lagi nggak baik-baik aja, ada yang bisa aku bantu?" atau "Boleh nggak aku kasih masukan soal ini?" Pendekatan tersebut jauh lebih baik, karena menunjukkan bahwa kita beneran peduli dan (mungkin) bisa menjadi pemberi solusi, bukan cuma dijadiin bahan gosip.