Obsesi Harta & Kehormatan yang Menghancurkan Keimanan

Pemimpin yang Salah, Rakyat yang Sengsara

Words of the Prophetﷺ

Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada rusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kehormatan.

Volume3Ch.36No.2376
At-Tirmidzi. (2008). Sunan Al-Tirmithi. Translated by Haytham Kreidly.

"Kok orang ini bisa jadi pemimpin?" Skill minim, pengalaman kurang, tapi entah kenapa malah dapat jabatan tinggi. Sementara yang kompeten malah stuck di posisi bawah. Fenomena ini bukan hal baru, bahkan Rasulullah SAW sudah memperingatkan umatnya tentang bahaya memberikan kekuasaan kepada orang yang tidak berhak. Dan konsekuensinya? Bukan cuma pemimpinnya aja yang rugi, tapi semua orang di bawahnya ikut sengsara.

Amanah di Tangan yang Salah adalah Tanda Kehancuran Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika kejujuran telah sirna, maka tunggulah datangnya Hari Kiamat." Ada yang bertanya: "Bagaimana kejujuran akan sirna, wahai Rasulullah ﷺ?" Beliau menjawab: "Jika kekuasaan diberikan kepada orang yang tidak berhak menerimanya, maka tunggulah datangnya Hari Kiamat."

"Kenapa Jadi Tanda Kehancuran?" Ketika jabatan jatuh ke tangan yang salah, kerusakan yang terjadi tak pernah berhenti pada satu orang. Efek domino akan berjalan, menyeret tim, melumpuhkan sistem, dan menghancurkan kepercayaan yang butuh bertahun-tahun untuk dibangun. Bos nggak kompeten → keputusan salah → project gagal → karyawan di-PHK → perusahaan rugi. Pemimpin negara nggak kompeten → kebijakan ngasal → ekonomi amburadul → pengangguran meningkat.

Bayangin kalau jabatan selalu dikasih ke "orang dalam", apa yang terjadi? Ya jelas aja orang jadi males berprestasi. Kamu kerja keras, lembur, kasih ide cemerlang, tapi yang promosi tetep anak bos atau temen deket atasan. Lama-lama kamu mikir. "Ah, ngapain gue kerja keras kalau ujung-ujungnya yang naik cuma yang punya koneksi?" Terus, orang-orang kompeten mulai resign satu per satu. Mereka cari tempat yang lebih fair, yang menghargai kemampuan, bukan koneksi. Organisasi atau negara bakal kehilangan talenta terbaik. Apa yang paling bahaya? Nepotisme jadi budaya. Dianggap wajar, diterima sebagai "ya udah memang begitu aturannya", bertahun-tahun ke depan, generasi baru tumbuh dengan mindset yang sama. Sehingga, siklus buruk ini terus berulang, nggak pernah berhenti.

Belajar Sambil Jalan? Tidak Semua Kursi Punya Ruang untuk Eksperimen Kasih posisi pilot ke orang yang belum pernah terbang → Bencana. Kasih posisi dokter bedah ke orang yang baru belajar anatomi → Malpraktik. Kasih posisi presiden ke orang yang nggak punya visi kepemimpinan → Negara tanpa arah.

Dalam QS. Al-Ahzab: 72, Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh."

Next Article

Read More →
More Topics
TopicsSosial

Read the English version: Incompetent Leaders, People Suffer

← Browse all articles