Cinta Allah dan Manusia dalam Sikap Zuhud

Sikap Zuhud (Ketidakterikatan)

Words of the Prophetﷺ

Zuhudlah di dunia, Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, mereka akan mencintaimu.

Book37Ch.1No.4102
Ibnu Majah. (2008). Sunan Ibnu Majah. Translated by Mohammad Mahdi al-Sharif.

Ketika mendengar kata "zuhud," kebanyakan orang langsung membayangkan seseorang yang hidup miskin, tidak punya apa-apa, pakaian lusuh, dan menjauhi segala kenikmatan dunia. Zuhud seolah identik dengan kemiskinan dan penderitaan. Tapi benarkah demikian?

Zuhud Bukan Berarti Tidak Boleh Punya Harta Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Bukanlah dinamakan zuhud dengan mengharamkan yang halal, dan tidak pula dengan tidak memiliki harta.Akan tetapi zuhud di dunia itu adalah kamu tidak menjadikan apa yang menjadi milikmu lebih berharga daripada apa yang dimiliki Allah, serta balasan dari musibah yang menimpamu lebih kamu harapkan daripada musibah itu sendiri, walaupun musibah itu senantiasa menimpamu.”

Zuhud bukan berarti kita harus menghindari makanan enak, pakaian bagus, atau rumah yang nyaman. Kita boleh menikmati nikmat dunia yang halal, asalkan hati kita tidak terikat padanya. Artinya, hati yang tidak bergantung atau tidak terpaku pada harta/dunia tersebut. Kita bisa menikmatinya, tapi siap ikhlas kalau Allah mengambilnya.

Harta tidak menguasai pikiran → Bisa fokus ibadah, tidak terus-terusan mikirin uang. Tidak hancur kalau kehilangan → Kehilangan uang atau pekerjaan, sedih wajar tapi cepat bangkit dan tetap bersyukur. Dermawan dan mudah berbagi → Tidak berat hati saat uang dipakai untuk membantu orang lain.

Orang yang zuhud tidak mudah terpengaruh oleh lifestyle orang lain di media sosial. Mereka tetap bersyukur dengan apa yang mereka punya, tidak merasa harus ikut semua tren, dan tidak stres kalau tidak bisa hidup semewah yang mereka lihat di layar HP. Ini bukan berarti kita harus menghapus semua akun media sosial, tapi kita perlu menjaga hati agar tidak terikat pada standar hidup yang ditampilkan di sana.

Tanpa zuhud, kita terjebak dalam siklus yang tak berujung, siklus tidak pernah merasa cukup. Ketika gaji naik, gaya hidup ikut naik. Setelah membeli rumah, kita menginginkan rumah yang lebih besar. Setelah membeli mobil, kita menginginkan mobil yang lebih mewah. Tidak ada titik akhirnya. Kebahagiaan selalu terasa ada di depan, tidak pernah hadir di hari ini. Zuhud mengajarkan kita untuk berdamai dengan apa yang sudah kita miliki, bukan berarti berhenti berusaha, tetapi tidak membiarkan keinginan menguasai rasa syukur. Dengan begitu, kebahagiaan tidak lagi menjadi sesuatu yang ditunggu, melainkan sesuatu yang sudah kita rasakan hari ini.

Dalam QS. Al-Qashash: 77, Allah berfirman: "Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia."

Next Article

Read More →
More Topics
TopicsKeimananEkonomi

Read the English version: The Practice of Zuhd (Detachment)

← Browse all articles