Dakwah dengan Kemudahan dan Kabar Gembira

Agama Itu Mudah, Jangan Mempersulit Dirimu

Words of the Prophetﷺ

Berikanlah kemudahan bagi manusia dalam urusan agama, dan janganlah kamu mempersulit mereka, dan sampaikanlah kabar gembira kepada mereka, dan janganlah kamu membuat mereka lari (dari Islam).

Book3Ch.5No.69
Al-Bukhari, M. (2020) Sahih Al-Bukhari. Compiled by M. Mohee Uddin.

Pernahkah kamu merasa burnout dalam beribadah? Shalat malam setiap hari sampai kelelahan, puasa sunnah berturut-turut hingga lemas, atau mengikuti kajian berganti-ganti hingga tidak punya waktu istirahat? Kamu merasa harus melakukan semuanya, kalau tidak, dosamu akan bertambah. Padahal, tubuhmu sudah lelah, pikiranmu stres, dan justru ibadahmu jadi tidak khusyuk.

Anjuran Nabi untuk Melakukan Amalan Sesuai Kemampuan Diriwayatkan Dari Aisyah (Radiallahu Anha): Setiap kali Rasulullah (ﷺ) memerintahkan umat Islam untuk melakukan sesuatu, beliau selalu memerintahkan mereka untuk melakukan hal-hal yang mudah bagi mereka (sesuai dengan kekuatan dan kesabaran mereka).

Jangan Memberatkan Diri dalam Beragama Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Agama itu mudah, dan barangsiapa yang membebani dirinya dalam agamanya, maka ia tidak akan mampu bertahan. Maka, janganlah kalian bersikap ekstrem, tetapi berusahalah untuk mendekati kesempurnaan dan terimalah kabar gembira bahwa kalian akan mendapatkan pahala; dan perkuatlah dirimu dengan beribadah di pagi hari, di sore hari, dan di akhir malam.”

Jika seseorang memaksakan tahajud setiap malam hingga hanya tidur 3–4 jam, lalu konsentrasi di siang hari untuk bekerja menurun atau shalat wajib dikerjakan dengan tergesa dan tidak khusyuk, maka tanpa disadari aktivitas tambahan (shalat sunnah) justru menurunkan kualitas kewajiban utama. Melakukan amalan sunnah tentu baik dan dianjurkan. Namun, ia tidak seharusnya mengganggu prioritas utama. Ketika ibadah sunnah menyebabkan kewajiban menjadi terabaikan atau kualitasnya menurun, maka yang perlu dievaluasi bukan niatnya, tetapi cara melakukannya (frekuensi, durasi, dan waktunya perlu disesuaikan kemampuan).

Ada hierarki dalam ibadah: Fardhu > Sunnah Muakkad > Sunnah Ghair Muakkad. Kalau kamu sibuk dengan sunnah (ibadah tambahan) sampai mengabaikan fardhu (kewajiban), itu keliru. Contoh: Sibuk tahajud sampai ketiduran shalat Subuh, atau sibuk puasa sunnah sampai nggak ada energi untuk kerja dan menafkahi keluarga (yang merupakan kewajiban). Atur kembali prioritasmu, jangan sampai ibadah tambahan mengganggu kewajiban utama.

Jangan judge orang lain hanya karena mereka nggak melakukan sebanyak amalan sunnah seperti kamu. Jangan sampai kita membuat orang lain merasa bersalah kalau nggak melakukan semua sunnah. "Kamu nggak tahajud? Astaghfirullah!" "Kamu nggak puasa Senin-Kamis? Sayang banget pahalanya!" Ini menciptakan tekanan yang nggak perlu dan justru bikin orang tertekan, bukan dekat sama Allah. Islam itu tentang kedamaian dan keseimbangan, bukan kecemasan dan rasa bersalah. Lagipula, perjalanan dan kondisi setiap orang itu berbeda-beda. Mungkin si A nggak kerja full-time hingga lembur, atau si B nggak punya anak kecil yang harus diurus. Kerjakan saja apa yang kamu mampu sesuai kondisimu.

Dalam QS. Al-Ma'idah: 6, Allah berfirman: "Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur."

Next Article

Read More →
More Topics
TopicsKeimanan

Read the English version: Religion is Easy, Don't Make It Hard on Yourself

← Browse all articles