Kita sering mendengar orang mengaku beriman, tapi perilakunya justru menyakiti orang lain. Padahal, iman yang sejati akan selalu terpancar melalui kebaikan akhlak. Ingatlah, Allah tidak menilai dari penampilan, tetapi dari hati dan perbuatan kita.

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.
Kita sering mendengar orang mengaku beriman, tapi perilakunya justru menyakiti orang lain. Padahal, iman yang sejati akan selalu terpancar melalui kebaikan akhlak. Ingatlah, Allah tidak menilai dari penampilan, tetapi dari hati dan perbuatan kita.
Banyak orang yang rajin shalat, baca Quran, bahkan hafal banyak surah, tapi kasar sama orang tua, sama tetangga jutek, atau di media sosial suka nyebar kebencian. Padahal Rasulullah SAW bilang, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya." Iman itu bukan cuma soal hubungan sama Allah, tapi juga hubungan sama manusia.
Lebih parah lagi ketika agama dijadikan pembenaran untuk tindakan yang salah. Sebagai contoh: Diskriminasi Gender → "Perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya ke dapur juga. Ini kodrat dari Allah." Kekerasan Verbal → "Gue marah-marah ke istri karena dia nggak nurut, kan suami pemimpin dalam Islam." Eksklusivisme → "Gue nggak mau berteman sama orang yang nggak shalat, nanti kebawa pengaruh buruk. Ini menjaga iman." Diskriminasi Ekonomi → "Orang miskin itu pasti karena males atau nggak bersyukur. Kalau rajin dan bertakwa, pasti dikasih rezeki."
Ada juga yang sering menghakimi orang lain: "Kamu nggak hijab? Astaghfirullah, dosa besar!" "Kamu putus asa? Lemah banget imannya!" "Kamu nonton film? Buang-buang waktu, dosa!"
Beberapa dari kita mungkin sangat peduli sama hukum halal-haram tapi nol empati terhadap penderitaan orang lain. Misalnya begini: Marah besar kalau anak nggak shalat, tapi nggak pernah tanya kenapa anaknya stres atau depresi. Ribut soal jilbab adik atau anak perempuan, tapi nggak peduli pas mereka curhat soal di-bully di sekolah. Kritik keras saudara yang "kurang religius", tapi nggak mau nolong pas mereka bangkrut dan butuh bantuan.
Dakwah yang paling efektif itu bukan ceramah panjang atau debat kusir, tapi lewat kehadiran kita yang menenangkan. Ada yang bilang, "Aku jadi tertarik belajar Islam karena punya teman muslim yang baik banget, jujur, bisa dipercaya, selalu ada waktu dengerin masalahku." Itulah dakwah yang sesungguhnya. Orang nggak akan tertarik sama Islam kalau yang mereka lihat adalah muslimnya yang tidak berempati, merasa paling benar, atau suka menghakimi. Mereka akan tertarik kalau muslimnya memiliki sifat rendah hati, penuh kebaikan, dan peduli terhadap sesama.
Gunakan agama untuk menerangi hidupmu dan orang lain, bukan untuk menyerang atau merendahkan. Islam yang sejati itu membuat orang merasa aman, dihargai, dan dicintai, bukan takut dihakimi atau tertekan. Jadi, kalau orang-orang di sekitarmu merasa nyaman dan aman sama keberadaanmu, itu tandanya kamu di jalan yang bener.
Dalam QS. Al-Qashash: 77, Allah berfirman: "Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu."